Informasi resmi mengenai lambang desa, sejarah, visi & misi, struktur pemerintahan, serta peta lokasi Desa Sanding.
Ringkasan:
Pada jaman prasejarah, Desa Sanding sudah dihuni oleh penduduk prasejarah, dengan terdapatnya bukti peninggalan sarfopagus di banjar padangsigi, Desa Sanding namun ketika itu, nama Desanya belum bernaman Desa sanding ...
Pada jaman bali kuno antara tahun 800 M sampai tahun 1343 M tercatat pemerintah kerajaan Bali Kuno dari dinasti Warmadewa, bertempat di Pejeng dan Bedahulu.
Tahun 1335 M yang menjadi pemangku di besakih adalah Sang Kul Putih yang mempunyai seorang putra angkat yang bernama Bang Gotra yang kemudian dikawinkan dengan Ni Luh Sekar Kemuda ( Putri Dukuh Jati Tuhu ) dari Surga. Bang Gotra kemudian didiksa menjadi Bujangga Rudita. Dari perkawinannya itu Bujangga Rudita menurunkan Putra bernama bang Maya.
Sementara itu yang bertahta di Bedaulu dari tahun 1324-1341 M adalah raja Sri Asta Asura Ratna Bumi Banten alias Sri Gajah Waktra.Beliau dikalahkan oleh raja Majapahit yang mengirim pasukan dibawah pimpinan Gajah Mada ke Baliaga. Raja Majapahit kemudian mengutus Adipati yang bergelar Sri Aji Dalem Ketut Kresna Kepakisan, Bujangga Mustika, yang disertai Bujangga Madura dan para mantra/ patih Samprangan/ samplangan Gianyar dan mempunyai putra empat orang, yang tertua bernama I Dewa Samplangan yang kemudian diangkat sebagai raja ( Mabiseka ) dengan gelar Sri Aji Dalem Samplangan alias Dalem Hile. Putra nomor dua bernama I Dewa Tarukan berpuri di Tarukan, Nomor Tiga Dewa Ayu Swabawa di Samplangan.Putra keempat Dewa Ketut Ngulesir kemudian dinobatkan menjadi Raja di Gelgel menggantikan Dalam Samplangan dan bergelar Sri Dalem Ketut Semara Kepakisan alias Dalem Ketut Ngulesir berpuri di Gelgel Klungkung.
Pada jaman Pemerintahan Samplangan, suasana Baliaga belum stabil sehingga terjadilah beberapa kali pemberontakan oleh masyarakat baliaga. Puri Tarukan juga mendapat perlindungan dari serangan Masyarakat Baliaga, untuk itu maka Putra Arya Getas dikirim ke wilayah Poh Tegeh ( Mangga Yang Tinggi ) untuk menjadi banteng Pertahankan bagi dalem Tarukan, yang sekaligus untuk menjaga penyiwian jagat ( Pura Tirta Empul, Pura Gunung Kawi, Pura Mengening dan Pura Peguliangan ). Di wilayah Poh Tegeh keadaannya maih rimbun/hutan, disana terdapat pohon mangga yang tinggi yang dalam istilah Bali disebut Poh Tegeh. Putra Arya Getas tersebut di percaya untuk memimpin masyarakat dan beliau diberi nama Kyai Lurah Poh Tegeh Bersama Ida Pedanda, kemudian Kyai Lurah Poh Tegeh sempat membangun tempat suci berupa Padmasana di perempatan jalan. Bangunan padmasana tersebut dibelakang hari disebut Pura Catur Bhuwana
Ringkasan:
Dalam rangka pencapian tujuan pembangunan diperlukan berbagai upaya dengan melibatkan peran serta masyarakat yang optimal demi terwujudnya masyarakat yang sejahtera yang mandiri.Semakin tinggi tingkat kemandirian masyarakat semakin tinggi pula daya tahannya menghadapi berbagai tantangan dan gejolak. ...
Kemandirian masyarakat memungkinkan mampu membangun dirinya serta menentukan pioritas kebutuhannya atas dasar potensi yang mereka miliki. Masyarakat yang semakin mandiri akan semakain mampu menyelesaikan persoalan-persoalan yang dihadapi sehingga tidak membebani pemerintah. Dalam melaksanakan pembangunan yang berkelanjutan, lestari dan berwawasan lingkungan yang menyentuh langsung hayat hidup masyarakat maka penerapan pembangunan partisifatif merupakan jawaban yang tepat untuk dilakukan.Pembangunan partisifasif melibatkan semaksimal mungkin persen serta masyarakat dan menggali potensi diri yang mereka miliki agar mampu mengembangkan kreativitas untuk memngambil prakarsa bagi kemajuan mereka sendiri sehingga memiliki daya tahan yang optimal didalam menghadapi lingkungan strategis yang terus berkembang.
Pembanguan yang dilaksanakan berbagai pihak semuanya akan bermuara di desa dan kelurahan. Karena pada dasarnya Negara ini terdiri dari kumpulan besar desa-desa dan kelurahan.oleh karena itu, Pemerintah desa menempati posisi yang strategis dan diharapkan mampu sebagai penggerak dan pelaku utamadalam melaksanakan pembangunan.Untuk mendukung keberhasilan pembangunan di Desa dengan pola partisifasif tersebut, perlu upaya penguatan kelembagaan, peningkatan motivasi dan swadaya gotong royong masyarakt di Desa serta memberikan perhatian pada aspek pemerdayaan masyarakat. Pemerdayaan masyarakat pada hakekatnya betujuan untuk meningkatkan kemampuan masyarakat melalui pelaksanaan berbagi program dan kegiatan pembangunan, agar kondisi masyarakat dapat mencapai tingkat kemampuan yang diharapkan serta meningkatkan kemandirian masyarakat melalui pemberian wewenang serta proporsional dalam pengambilan keputusan di dalam proses membanguna diri dan lingkungnnya secara mandiri.
Untuk mengetahui pencapaian hasil kegiatan pembangunan dan karakter desa secara menyeluruh, maka perlu disusun Profil Desa. Profil Desa Sanding ini dibuat dengan perpedoman pada Peraturan Menteri Dalam Negeri Republik Indonesia Nomor 13 Tahun 2007 tentang pedoman penyelenggaraan perlombaan Desa dan Kelurahan.
Data yang kami pergunakan untuk menyusun profil Desa ini adalah data-data dua tahun terakhir yakni tahun 2023 dan 2024 yang menyajikan keadaan dan tingkat perkembangn penduduk, pendidikan, kesehatan masyarakat, ekonomi masyarakat, keamanan dan ketertiban, partisipasi masyarakat, pemerintah, lembaga kemasyarakatan, pemerdayaan dan kesejahteraan keluarga serta potensi-potensi desa lainnya.
"Bersama Membangun Desa Sanding Berlandaskan Tri Hita Karana" Bersama sama ikut mewujudkan pembangunan Desa yang berkeadilan, terbuka dan transparan tetap bertakwa kepada Ida Sang Hyang Widhi Wasa, menjaga hubungan baik dengan sesama warga dan memelihara alam lingkungan.
Ringkasan misi Desa Sanding:
Teori siklus hidup manusia adalah dari dalam kandungan sampai lanjut usia mendapatkan pelayanan kesehatan.
Langkah-langkah yang dilakukan adalah:
Mengembangkan dan memperkenalkan potensi wisata desa meliputi:
Berkomunikasi dan bekerja sama dengan warga Sanding yang paham dunia pariwisata agar program pariwisata desa berjalan baik.